Hal-Hal yang Akan Kamu Hadapi Sebagai Fresh Graduate yang Baru Jadi Karyawan

Tags : sukses-jadi-pekerja,fresh-graduate,cari-kerja,karyawan
Date :24 Januari 2015

Kata orang, kehidupan nyata itu baru dimulai ketika kamu meninggalkan bangku kuliah dan benar-benar menginjak dunia kerja. Kamu mulai diberi tanggung jawab yang lebih besar, dan dituntut untuk lebih profesional. Transisi ini bisa membuatmu disergap berbagai kecemasan. Di lain pihak, ada juga hal-hal yang akan bisa membuatmu senang.

Nah, apa aja sih sebenarnya suka-duka yang bakal kamu rasakan sebagai fresh graduate yang baru saja dapat pekerjaan pertama?

1. Kamu akan merasa seperti dilepas ke sekolah baru. Berbagai kekhawatiran menyelimutimu, mulai dari pakaian hingga eyeliner yang belepotan.

Di hari-hari pertamamu di kantor, kamu ingin menunjukkan kalau kamu pantas mendapatkan pekerjaan itu — termasuk dengan mengeluarkan penampilan terbaikmu. Masalahnya, setelah bertahun-tahun terbiasa santai di kampus kamu perlu waktu lama untuk menjadi pekerja kantoran yang rapi dan necis.

Kamu harus mengikhlaskan kebiasaan memakai kaos oblong ala mahasiswa. Kamu juga mulai belajar berdandan yang lebih niat. Kalau dulu kamu cukup pergi ke kampus dengan bedak bayi dan lipgloss, sekarang kamu akan menyempatkan diri menata rambut dan mengulas lipstik. Nggak jarang, tiap pagi kamu dihadapkan pada kebingungan semacam “pakai baju apa ya?” atau “Aduh, ini gimana caranya supaya eyeliner-ku nggak luber-luber?!?”

2. Begadang tak lagi semenyenangkan saat masih mahasiswa. Kamu tak lagi bisa menanggung risiko bangun terlambat esok paginya.

Mungkin kebiasaanmu begadang waktu mahasiswa masih sulit dilepaskan. Padahal sekarang, risiko bangun terlambat lebih besar: terjebak macet, telat datang ke kantor, dan ditegur bos.

Ketakutan-ketakutan semacam ini bisa membuatmu memilih tidak tidur sama sekali ketika sudah telanjur begadang. Atau sebaliknya, ketakutan ini malah membuatmu memaksa diri mengatur jam biologismu, sehingga kamu bisa jadi yang paling tepat waktu di kantor.

3. Tak ketinggalan adalah kekhawatiranmu pada suasana kantor sendiri. Bukan hanya bos, teman-teman sesama karyawan akan kamu perlakukan dengan hati-hati.

Yang pertama kali terlintas di otakmu saat kamu tahu kamu diterima di perusahaan itu: “Bosnya gimana ya?” Kamu khawatir kalau bosmu adalah orang yang kaku dan galak. Kamu pun khawatir kalau kamu melakukan kesalahan fatal yang bisa membuatnya menilaimu negatif.

Kamu juga mencemaskan pembawaan rekan-rekan kerjamu. Kamu takut mendapat perlakuan tidak adil hanya karena kamu masih junior, atau karena ada teman kantor yang rese. Kamu pun akan mengkhawatirkan apa yang sebaiknya kamu obrolkan dengan teman kantormu. Mau ramah, takut dibilang kepo. Mau kalem, takut dikira nggak komunikatif. Kamu kudu piyee?

4. Tugas-tugas pertama kamu hadapi dengan jantung berdegup kencang. Gagal masa probation atau bahkan pemecatan selalu jadi bayang-bayang.

Sebagai anak baru, kamu pasti takut tidak bisa menyelesaikan segala tugas yang diberikan ke kamu. Ketika kamu diterima bekerja di bank, kamu akan dihadapkan dengan laporan-laporan keuangan yang harus kamu cek setiap harinya. Kamu takut akan membuat kesalahan, sehingga menyebabkan pekerjaan orang lain berantakan.

Saking ingin maksimalnya bekerja, kadang kamu harus lembur di hari-hari awal. Akibatnya, cap sebagai “anak lembur” pun menempel di kamu.

5. Rutinitas jadi hal yang tak terhindarkan. Tanpa jam-jam tertentu untuk melakukan sesuatu, kamu tak akan bisa bertahan.

Waktu masih jadi mahasiswa dulu, kamu terbiasa melakukan apapun kapanpun. Mau bangun pukul berapa, terserah; mau tidur pukul berapa, terserah; mau makan siang kapan, terserah; mau menghabiskan sehari semalam buat skripsi, terserah; mau nggak ngapa-ngapain? Terserah!

Di dunia kerja, kamu akan dihadapkan dengan jam kerja yang rutin dan “saklek”. Kamu harus sudah ada di kantor pukul 8 atau 9 pagi. Punya waktu untuk makan siang dari jam 12.30 sampai jam 1 siang. Tidak boleh pulang sebelum jam 7 sore. Begitu seterusnya, sampai akhir pekan tiba.

6.  Ketika harus pulang duluan, kamu akan segan untuk berpamitan… Apalagi kalau bosmu belum pulang.

Jam pulang kerja menjadi hal yang membuatmu segan. Kalau kamu pulang kantor lebih dulu dari pegawai yang lain, kamu takut dicap malas atau nggak mau berusaha maksimal.

Kamu pun takut kalau kamu dicap sebagai anak baru yang tidak tahu hormat, karena pulang duluan dari kantor. Terkadang, kamu harus menunggu rekan kerja lain pulang duluan. Barulah kamu “ngikut”. Hehee.

7. Ketika rutinitas itu sudah mengendap jadi agenda, barulah kamu mengerti pentingnya weekend dan cuti. Kamu ingin kabur: ke mana saja, asal bukan ke kantor ini.

Ketika sudah beberapa minggu bekerja di kantor baru, rasa excited yang dulu sempat menghampirimu kini hilang. Kamu telah dihadapkan pada realita yang sebenarnya. Pekerjaan di kantor menyita sebagian besar waktumu. Kamu berkutat dengan rekan-rekan yang itu-itu saja. Kamu pun mulai jengah pada tugas yang diberikan bosmu, serta laporan-laporan rutin yang harus kamu buat.

Kamu pun mulai bermimpi di siang bolong tentang cuti. Bulan depan ke Karimun Jawa, dua bulan lagi ke Yogya, minggu depan pulang ke rumah orang tua: pokoknya kamu ingin kabur, kemana saja.

8. Di lain sisi, punya uang sendiri masih menjadi hal yang sangat asing bagimu. Berbagai produk terbaru memenuhi imajinasimu.

Sebagai orang yang hidupnya selama ini tergantung pada uang bulanan, memikirkan gaji pertama pasti akan membuatmu bersemangat dan senang. Kamu mulai bermimpi untuk memberikan ke orang tua, atau menyisihkan sebagiannya untuk mentraktir sahabatmu. Dengan ini, kamu akhirnya bisa menunjukkan kalau kamu bisa mandiri.

Di sisi lain, ada puluhan barang yang ingin kamu beli: HP baru, baju yang lebih oke, spare part motor…kamu pun bingung harus menghabiskan gaji pertamamu untuk apa.

Untuk kamu yang sedang menunggu gaji pertama, selamat menunggu! Pergunakan gajinya sebaik mungkin, ya.

9. Nongkrong mulai menjadi hal yang absurd bagimu. Teman-teman yang dulu akrab mulai lepas, meniti jalan mereka sendiri satu-satu.

Waktu kamu masih jadi mahasiswa, kamu bisa nongkrong hampir setiap malam (kalau kamu mau). Tapi sebagai pekerja, bahkan akhir pekan pun rasanya sayang untuk dihabiskan di luar rumah. Kadang, kamu hanya ingin sendirian — nonton TV atau internetan.

Rutinitas kerja membuat waktu yang bisa kamu habiskan dengan sahabatmu jauh berkurang. Hingga hampir larut malam, kamu masih dituntut untuk fokus dengan pekerjaanmu. Tak jarang, ini membuat hubunganmu dengan teman-teman menjadi lebih renggang.

10. Ada rasa lelah, tak percaya, dan bosan yang kamu lalui sebagai karyawan. Namun, kamu siap menaklukkannya demi masa depan yang lebih mapan.

Sebagai fresh graduate yang baru punya pekerjaan pertama, pikiran-pikiran ini mungkin masih mendominasi kepalamu:

“Seriusan nih gue kerja?”

“Besok aku kerja loh. KERJA!”

Sebelumnya, kamu hanya seorang mahasiswa biasa yang doyan ke perpustakaan atau nongkrong di depan 7-11. Sekarang, kamu sudah harus lebih bertanggung jawab. Kalau dulu kamu berani meminta uang jajan ke orang tua, kali ini kamu akan bangga bisa menolaknya.

Tapi, bekerja bukan hanya soal menghasilkan uang sendiri. Bekerja adalah caramu membuktikan bahwa ada makna yang bisa kamu berikan ke orang lain. Ilmumu, hatimu, dan kerja kerasmu sebagai individu: semuanya terpakai. Menyadari hal itu, kamu harus bangga.

Transisi dari menjadi mahasiswa ke pekerja kantor tidak selalu mulus. Ada hal-hal yang menyenangkan, memang, tapi ada juga rasa cemas dan ketakutan. Tenang: kalau kita sabar menghadapinya, ketakutan-ketakutan itu akan sirna. Saat kamu memulai hari pertamamu di kantor, tersenyumlah. Perlahan tapi pasti, kamu akan menyadari bahwa ada banyak yang bisa kamu lakukan di dunia ini.